Ini keren! MIB Agent J and Agent K! Repath kak Boim pengamat dan aktivis politik – View on Path.

“Para penumpang yang terhormat, dikarenakan keadaan lalu lintas udara Jakarta yang sedang padat, kami belum mendapatkan izin untuk lepas landas dari menara kontrol Soekarno-Hatta. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini..”~

Pengumuman dari kapten pesawat GA416 yang saya tumpangi terdengar melalui pengeras suara yang digemakan ke seluruh pesawat dan sukses membuat sebagian besar penumpang kecewa. Terdengar dari banyaknya gumaman keluhan dan terlihat dari beberapa penumpang yang melepaskan sabuk pengamannya dan berdiri untuk bertanya kepada awak kabin.

Malam itu gue akan berangkat menuju Bali untuk.. well, tadinya sih gue berencana untuk berlibur dengan pacar. Dikarenakan suatu hal, kami (gue dan cewek gue) putus.. puk puk akhirnya (mantan) pacar gue pun batal ikut ke Bali. Tapi dikarenakan gue orang padang sejati yang ogah rugi, dan rasanya sayang juga udah beli tiket pesawat Garuda Indonesia yang waktu itu lagi promo (900 ribu PP MEN! Udah termasuk makanan dan bagasi cuma cuma lagi! Kapan lagi coba?!), akhirnya gue memutuskan untuk tetap berangkat. The show must go on. Begitu pikir gue saat itu. Siapa tau malah di Bali ketemu cewek ya kaan.. Hehehe :3

Meskipun pesawat telat berangkat dikarenakan lalu lintas bandara yang sedang padat, tapi pramugari dan pramugara Garuda Indonesia yang bertugas malam itu berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakan penumpang. Troli makanan hangat langsung diedarkan keliling kabin dan inflight entertainment langsung dinyalakan. Yeay! Gak mati gaya lagi deh! Setelah menghabiskan hidangan yang disediakan, gue langsung memainkan remote control yang ada di samping kursi gue dan mencari daftar film yang menarik untuk ditonton. Pilihan filmnya cukup variatif sebelum akhirnya gue memilih acara dokumenter Air Crash Investigation-nya NatGeo yang berguna untuk menambah pengetahuan sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan. Gak deng hehehe. Gue memilih nonton film Batas (yang diperankan oleh Marcella Zallianty sebelum terkuak skandal dengan ARB :p)

Tak lama setelah itu akhirnya pesawat diizinkan untuk lepas landas. Setelah lampu kabin diredupkan, gue pun mulai mencoba untuk beristirahat (baca: tidur) sebelum menginjakan kaki di pulau dewata. Istirahat yang cukup singkat karena rasanya pilot yang bertugas malam itu mengemudikan pesawat dengan maximum speed. Pesawat Garuda Indonesia A330 yang gue tumpangi berhasil membawa gue (dan seluruh penumpang yang lain pastinya) sampai ke Bali dengan selamat hanya dalam waktu 1 jam 20 menit! Gokil! Kejer setoran karena udah ngaret di Jakarta kali ya? :p

Empat hari di Bali sendirian ternyata not that bad. Sangat menyenangkan malah. Gue menyewa sebuah skutik (skuter matik) dari penginapan tempat gue menginap dan berkeliling Bali mulai dari Pantai Pandawa sampai ke Ubud! Gue juga mencoba beberapa rekomendasi restoran lokal yang direkomendasikan oleh teman gue di Ubud yang ternyata menu utamanya adalah olahan babi. Mana gue juga baru dikasih tau setelah makan. Bangke. Tapi ternyata babi enak juga ya! #lah Selain itu gue juga menyempatkan untuk berkunjung ke Monkey Forest untuk sowan dengan leluhur dan mampir ke Tanah Lot. (FYI, meskipun cukup sering ke Bali, gue baru sekali ini ke Tanah Lot hehehe)

Hari ketiga dan keempat gue habiskan untuk berkunjung ke pantai-pantai antimainstream di Bali. (hipster gitu ceritanya) Seperti Pantai Lovina dan Pantai Tulamben. Pantai Lovina yang terletak di ujung utara Bali ini sebenernya cukup populer dengan atraksi segerombolan lumba-lumba liarnya. Kapan lagi bisa menyaksikan lumba-lumba langsung di habitat aslinya? Sedangkan Pantai Tulamben termasuk pantai yang relatif sepi dan jarang turis domestik datang ke sini. Pantai Tulamben terkenal dengan wreck diving nya, di mana terdapat reruntuhan kapal karam di dasar lautnya yang menjadi daya tarik para diver seluruh dunia!

Setelah 3 malam di Bali, tibalah waktunya untuk kembali ke Jakarta. Sambil menunggu penerbangan GA425 yang akan membawa saya kembali ke ibukota, gue membunuh waktu dengan membaca timeline Twitter dan melihat akun twitter Pandji Pragiwaksono yang sedang mempromosikan show standup special-nya, Mesakke Bangsaku. Pikiran gue pun langsung melayang ketika menonton Standup Special Pandji yang pertama dan kedua (Bhinneka Tunggal Tawa, 2011 dan Merdeka Dalam Bercanda, 2012). Kedua standup special tersebut merupakan sebuah pengalaman menonton komedi berdiri yang tidak terlupakan, dan gue bertekad untuk tidak akan melewatkan yang ketiga!

Ketika Pandji memutuskan untuk membuat standup special yang pertama, Bhinneka Tunggal Tawa, bisa dibilang dia melakukan gebrakan dan keputusan yang nekat memang. Saat itu standup comedy masih bisa dibilang baru populer di Indonesia dan belum memiliki penggemar sebanyak sekarang. Tapi dia berani mengambil resiko tersebut dan.. SUKSES!

Ketika gue menonton standup special dia yang kedua; Merdeka Dalam Bercanda, Pandji juga berhasil menaikan levelnya lebih tinggi. Bit bit yang dia keluarkan terlihat sudah sangat matang. Meskipun venue yang dia pilih tidak dirancang untuk melakukan pertunjukan (Museum Nasional), tapi Pandji berhasil menutupi kekurangan itu dengan penampilannya yang memukau. Rahang sampe pegel karena ketawa terus. Satu hal yang paling gue sukai dari standup special Pandji adalah bagaimana ia berhasil membagi keresahan yang ia rasakan dan isu-isu sosial yang terjadi di sekeliling kita saat ini kepada para penikmat karyanya. Membuat kita tertawa sekaligus jadi berpikir, marah, menangis dan bersyukur dengan banyaknya permasalahan bangsa ini.

“Para penumpang Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA425 tujuan Jakarta dipersilakan untuk naik ke pesawat dari gate 12” sayup-sayup terdengar pengumuman di pengeras suara bandara memberitahu bahwa pesawat siap untuk diberangkatkan dan berhasil memecahkan lamunan gue di ruang tunggu bandara malam itu.

Saya menulis tulisan ini di Low Cost Carrier Terminal (Terminal Penerbangan Berbiaya Rendah) Bandara Internasional Kuala Lumpur, sebuah terminal bandara yang populer bagi pelanggan rutin maskapai asal negeri jiran tersebut di saat sedang menunggu penerbangan lanjutan yang akan membawa saya kembali ke Jakarta setelah berkelana selama 10 hari di Myanmar.

Satu hal yang saya amati di sela-sela waktu transit saya ini adalah semakin banyaknya pelancong Indonesia yang berlibur ke luar negeri. Dari awal ketika saya berangkat di Bandara Soekarno-Hatta menuju Singapura, hampir dua pertiga isi pesawat dipenuhi oleh orang Indonesia, anak-anak, muda, tua, ibu-ibu dan kakek-kakek yang akan berlibur (dan berbelanja, atau mungkin bekerja) di Singapura. Ketika saya berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, stasiun MRT dan tempat-tempat wisatanya pun, hampir pasti menemukan orang Indonesia lalu lalang di setiap sudutnya.

Tidak bisa dipungkiri, semakin tingginya kelas menengah di Indonesia, dan semakin murahnya ongkos pesawat terbang, kini hampir semua orang bisa terbang; persis seperti slogan maskapai negeri jiran tersebut.

Seingat saya dulu, bahkan tidak sampai sepuluh tahun yang lalu, naik pesawat terbang, apalagi liburan ke luar negeri masih merupakan kemewahan. Ketiadaan maskapai berbiaya rendah, dan kebijakan fiskal yang diterapkan pemerintah membuat liburan ke luar negeri-bahkan ke Singapura sekalipun terlihat sangat mewah. Hanya mereka yang benar-benar mampu yang sanggup melakukannya.

Tapi sekarang keadaannya berbalik, liburan ke luar negeri tidak lagi menjadi kegiatan ekslusif si kaya saja, tapi mereka yang hidupnya sedang-sedang saja pun juga bisa menapaki kakinya di tanah asing! Seorang teman yang di Jakarta hidupnya biasa-biasa saja, bahkan kemana-mana naik angkot sekalipun bisa pergi ke Singapura hanya untuk menonton film Hollywood favoritnya-yang tahun 2011 lalu sempat vakum masuk ke Indonesia, atau saya, yang pernah menghadiahi kelulusan kuliah saya tahun 2012 yang lalu dengan sebuah tiket ke Ho Chi Minh, Vietnam dan backpacker-an keliling Asia Tenggara selama sebulan!

Thank God for Tony Fernandes, yang mendobrak industri bisnis pesawat terbang di Asia yang penuh monopoli dan campur tangan pemerintah dengan meluncurkan maskapai berbiaya rendah bernama AirAsia. Kehadiran AirAsia di Malaysia memancing hadirnya maskapai-maskapai berbiaya rendah lainnya di Asia Pasifik seperti Jetstar di Australia, Tigerair di Singapura dan Lion Air di Indonesia. AirAsia bahkan melebarkan sayapnya dengan membuka afiliasi bisnisnya di Indonesia, Thailand, Filipina, India dan Jepang.

Setelah hadirnya berbagai pilihan maskapai berbiaya rendah ini, harga tiket pesawat kini semakin bersaing dan kompetitif, apalagi setelah pemerintah Indonesia mentiadakan biaya fiskal di awal 2011 yang lalu. Saat ini, bukan tidak mungkin Anda dapat menemukan tiket ke Bali hanya seharga kurang dari 100 ribu Rupiah, atau membeli tiket ke Bangkok tidak lebih dari 500 ribu Rupiah. Sebuah hal yang mustahil bisa terjadi 10 tahun yang lalu.

Tulisan ini saya tulis untuk Midjournal yang bisa dibaca di link ini: http://midjournal.com/2014/02/airasia-telah-mengubah-segalanya/

Malam Minggu yang lalu, 22 Maret 2014, saya berkesempatan menyaksikan The Raid 2: Berandal lebih dulu di Blitzmegaplex Grand Indonesia, 6 hari sebelum rilis resminya. Ekspektasi berlebih akan film ini menjejali pikiran saya (dan juga ribuan penonton lain malam itu).

Seperti film sebelumnya yang sukses mendulang pujian dan pengakuan internasional, The Raid 2: Berandal juga menggebrak dengan melakukan pemutaran perdananya di Sundance Film Festival awal tahun ini dan mendapat banyak respons positif dari media, kritikus dan pengamat film dunia. Situs IMDb (Internet Movie Database) bahkan sempat mengganjar film ini dengan rating nyaris sempurna, 9.8!

Menurut pengakuan sang sutradara, Gareth Evans yang juga hadir malam itu, The Raid 2: Berandal merupakan proyek film utamanya. Bersebab tidak punya anggaran yang cukup untuk memproduksinya saat itu, maka dibuatlah sebuah plot film yang lebih sederhana dan tidak memerlukan dana produksi terlalu besar, lalu lahirlah film The Raid: Redemption.

Agak sulit mengulas The Raid 2: Berandal, saking kerennya film ini dari awal sampai akhir (terlihat dari banyaknya tepuk tangan, decak kagum dan teriakan “film bangsat!”, “sinting!”, “film ngepet!” sepanjang film). Saya tidak akan bercerita banyak tentang jalinan plot yang disuguhkan, tapi saya akan membagi beberapa hal yang paling menarik di sini.

Plot film The Raid 2: Berandal dimulai dua jam setelah film pertamanya usai. Rama (Iko Uwais) bertemu dengan Bunawar (Cok Simbara). Rama, dari yang hanya sekadar berniat ingin memberantas polisi korup, jadi terlibat lebih dalam ke pusaran kelompok mafia dan pertarungan antargangster. Di tengah misi, ia juga tergoda membalaskan dendam sang kakak yang tewas di tangan salah seorang pentolan mafia.

Film ini punya skala konfilk yang lebih besar dari pendahulunya. Rama kini bukan satu-satunya yang ahli bela diri, di film ini ia harus menghadapi banyak musuh dengan keahlian bertarungnya masing-masing. Ada Julie Estelle, yang berhasil memerankan Alicia The Hammer Girl, sang pembunuh tuna rungu berdarah dingin dengan sangat apik (dan mengerikan), tapi tetap terlihat cantik meskipun sedang bersimbah darah. Ada juga pendatang baru yang langsung mencuri perhatian, Cecep Arif Rahman sebagai The Assasin dengan kelihaian dan kecepatan bela dirinya, membuat Iko Uwais mendapatkan lawan yang setara. Selain itu juga ada Arifin Putera, Alex Abbad, Oka Antara dan Tio Pakusodewo yang bermain luar biasa bagusnya.

Kalau Anda berpikir adegan perkelahian di The Raid: Redemption sudah mengerikan, tunggu sampai Anda menonton The Raid 2: Berandal. Total ada 19 adegan perkelahian sepanjang film, termasuk adegan perkelahian dan kejar-kejaran mobil sepanjang 20 menit yang membuat para penonton bertepuk tangan untuk keberhasilan sang sutradara mengeksekusi adegan yang penuh ketegangan ini dengan sangat baik.

Untuk lokasi pengambilan gambar, The Raid 2: Berandal jauh melebihi film pertamanya yang hanya berlokasi di satu gedung. Kali ini Gareth mengeksplorasi lokasi-lokasi yang saya tidak pernah menyangka bisa dilakukan di Jakarta, seperti adegan kejar-kejaran mobil yang pengambilan gambarnya dilakukan di tengah padatnya lalu lintas CBD Sudirman, Blok M dan Kemayoran.

Lalu apakah The Raid 2: Berandal sebagus film The Raid: Redemption? Even better! Yang saya tonton malam itu jauh lebih spektakuler dari film sebelumnya. Selama 150 menit durasi film ini (jauh lebih panjang dari durasi The Raid: Redemption yang hanya 100 menit), penonton diajak untuk melihat jalinan cerita yang lebih kompleks, akting yang jauh lebih matang, adegan perkelahian yang jauh lebih epik, dan jelas, Gareth Evans dan seluruh kru film ini telah memberikan standar baru bagi industri film Indonesia, bahkan dunia. Menonton film ini, jelas masa depan perfilman Indonesia belum berakhir. Sesuai dengan tagline-nya: It’s not over yet.

Artikel ini saya tulis untuk Midjournal yang bisa dibaca di link ini: http://midjournal.com/2014/03/the-raid-2-its-not-over-yet/

kuntawiaji:

Menu tanggal tua.

kuntawiaji:

Menu tanggal tua.

  1. Camera: SONY DSC-W55
  2. Aperture: f/7.1
  3. Exposure: 1/400th
  4. Focal Length: 6mm

kuntawiaji:

Saat hari raya Idul Fitri, pagi-pagi sekali saya sudah bersiap dengan segenap atribut ibadah. Sarung, baju muslim, peci, sajadah, dan tak lupa parfum. Saya pun berjalan menuju masjid bersama keluarga untuk melaksanakan shalat Id. Namun, perasaan damai menyambut hari raya itu perlahan menghilang…

9gag:

That’s what I’d call wall art.

adventurousemily:

Security camera clips that make the news usually show bad things, but Coke decided to “look at the world a little differently” in this heartwarming viral video. They found security camera footage from around the world showing happy moments: people stealing kisses instead of possessions, dealing potato chips instead of drugs, and offering car assistance rather than road rage. [x]

This video makes me cry EVERY time.

andira:

“Getting lost will help you find yourself”